
Oleh : Lybia Sudjono
Lembaga Sedjarah Hankam, Djakarta 1968.
I. SI ”HADJI” : GURU JANG RADJIN
Pemuda Sudirman dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1912 didesa Bodaskarangdjati, Rembang Djawa Tengah. Ia berasal dari kalangan rakjat djelata jang selalu hidup dalam kesederhanaan. Orangtuanja jang sebenarnja bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula didaerah Purwokerto. Ibunja bernama mbok Sijem, barasal dari Purwokerto.
Sudah sedjak ketjil Sudirman mendjadi anak angkat R. Tjokrosunarjo, jang sebenarnja djuga masih termasuk anggauta keluarga dari Pak Dirman (isteri Tjokrosunarjo adalah saudara dari mbok Sijem). Sudirman mendjadi anak angkat Tjokrosunarjo karena Tjokrosunarjo sendiri tidak mempunjai anak; lain daripada itu dimaksudkan pules untuk meringankan beban orangtua Sudirman sendiri jang hidup dalam kekurangan. Bahwa dirinja mendjadi anak angkat, baru diketahui oleh pemuda Sudirman pada tahun 1934, ketika R. Tjokrosunarjo hendak meninggal.
Pekerdjaan Sudirman sehari-hari sesudah pulang sekolah antara lain menjapu, menjiram tanaman, mengisi air kamar mandi dsb. Tidurnja hanja dibale-bale jang dialasi tikar sadja, dan sewaktu ada tamu dan kurang tempat, iapun pasti mengalah dan tidur dibawah. Kalau makan djarang duduk menghadapi medja makan, melainkan didapur sadja, itulah Sudirman dimasa mudanja hidupnja serba sederhana.
Sedjak tahun 1916 Sudirman tinggal di Tjilatjap karena ajah angkatnja Sudah pensiun dan pindah ke Tjilatjap (sebelum tahun 1916, Tjokrosunarjo mendjadi tjamat di Rembang). Antara tahnn 1925 – 1931 Sudirman bersekolah di Hollands Inlandsche School (H.I.S.) Purwokerto. Setelah tamat is rnelandjutkan ke Taman Dewasa/ Taman Siswa (1932 – 1933), djuga di Purwokerto.
Djika dilihat angka-angka rapornja, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sudirman termasuk murid jang biasa sadja, artinja ia bukanlah seorang murid jang luar biasa ketjerdasannja. Tetapi ia adalah seorang murid jang radjin, setiap peladjaran jang diadjarkan, diikutinja dengan seksama. Disekolah Taman Dewasa ini Sudirman hanja sampai kelas dua. Pada tahun 1932 ia pindah keperguruan Wiworo Tomo. Disekolah ini ia mendapat beberapa peladjaran lain, termasuk peladjaran mengenai agama Islam. Disekolah ini Sudirman memperlihatkan perhatian dan kemadjuan jang lebih besar, djuga dalam soal agama. Bahkan dalam soal agama ini Sudirman bersikap agak fanatik. la seorang Muslim jang sangat patuh dan baik. Hal ini menjebabkan ia sering dipanggil dengan nama edjekan
”kadjine” (si hadji) oleh kawan-kawannja.
Sudirman tamat dari Wiworo Tomo dalam tahun 1934 dan meneruskan ke. Muhammadijah di Solo. Akan tetapi karena ajah angkatnja, jaitu Tjokrosunarjo, meninggal pada tahun 1934, maka Sudirmanpun terpaksa keluar dari Muhammadijah sebab ibu-angkatnja tak sanggup membiajainja. Dari Solo Sudirman kembali ke Tjilatjap dan mengadjar di H.I.S. Muhammadijah.
Sebagai seorang pemuda, Sudirman tidak hanja radjin dalam peladjaran sekolahnja. Diluar sekolahpun ia sangat aktif, ia mendjadi anggauta kepanduan H i z b u l Wa t h a n dimana ia merupakan orang jang disajangi dan disegani oleh anggauta-anggauta lainnja. Ia merupakan salah seorang pemimpin jang berpengaruh. Disanalah kepemimpinannja mulai berkembang.
Sudirman pun terkenal sebagai orang jang sangat berdisiplin. Sifat ini sudah njata sekali pada masa mudanja. Tjontohnja ialah ketika H i z b u l W a t h a n mengadakan Djamboree dikaki gunung Slamet jang terkenal hawanja sangat dingin. Pada malam hari hawanja mendjadi begitu dingin sehingga para pengikut Djamboree meninggalkan kemahnja dan pergi kepenginapan jang ada didekatnja, ketjuali pemuda Sudirman. la tetap tinggal dalam kemahnja dan mengatakan bahwa hal itu dianggapnja sebagai suatu latihan untuk kemudian hari, siapa tahu, mungkin kelak akan menghadapi keadaan jang lebih berat. Disamping itu Sudirmanpun gema.r berolah-raga, terutama sepak bola. Permainannja tjukup baik meskipun sering agak kasar. Dalam tahun 1936 pemuda Sudirman memasuki kehidupan berumah tangga dengan seorang gadis pilihannja, bekas kawan sekolahnja dahulu di Wiworo Tomo. Dari perkawinan ini lahirlah tudjuh orang putera dan puteri.
II. DAIDANTJO JANG SERING PROTES.
Ketika Tjilatjap mengalami pemboman Djepang pada tanggal 3 dan 4 Maret 1942, ketika itulah pemuda Sudirman mengalami perang untuk pertama kalinja. Pada permulaan masa pendjadjahan Djepang Sudirman berusaha untuk mendapat izin dari pihak Djepang untuk membuka kembali sekolah Muhammadijah. Dengan melalui ber-bagai2 kesukaran achirnja usaha tsb. berhasil. Selain memperhatikan soal pendidikan, Sudirmanpun memperhatikan soa12 ekonomi. Dengan bantuan beberapa orang kawannja Sudirman berhasil mendirikan suatu koperasi dagang jang dinamai PERBI dimana Sudirman sendiri mendjadi ketuanja. Timbuinja PERBI disusul dengan timbulnja kooperasi2 lainnja. Achirnja Sudirman mendirikan Persatuan Kooperasi Indonesia, disingkat mendjadi PERKI Widjajakusuma. Sudiman djuga turut membentuk Badan Pengurus Makanan Rakjat, suatu badan jang berusaha untuk menghindarkan rakjat Tjilatjap dari bahaja kelaparan jang mengantjam di-mana2 selama masa pendjadjahan Djepang.
Ketika Djepang mengadakan penundjukan anggauta Perwakilan Keresidenan (Sju Sangikai), dari daerah Tjilatjap ditundjuk Sudirman. Sudirman djuga bekerdja pada Djawa Hokokai Keresidenan Banjumas.
Ketika dibentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA), Sudirman mengikuti latihan angkatan jang kedua. Selesai mengikuti latihan ini ia mendjadi Daidantjo didaerah Banjumas. Selama mendjadi Daidantjo Sudirman selalu membela agama dan bawahannja terhadap kesewenang-wenangan ”saudara tua”. Iapun banjak mengadjukan protes2 terhadap kekedjaman Djepang. Hal ini menjebabkan Sudirman ditjurigai oleh Djepang.
Dalam bulan Djuli 1945, Sudirman dengan banjak opsir PETA lainnja dibawa oleh Djepang ke Bogor. Konon kabarnja ada rentjana dari pihak Djepang untuk me-”lenjap”-kan mereka. Tetapi rentjana itu tak terlaksana karena petjahnja Revolusi pada tanggal 17 Agustus 1945. Sudirman dan kawan2nja bebas dan kembali ke Banjumas.
III. PEDJUANG DAN PANGLIMA
Setelah Sudirman kembali ke Banjumas, ia dengan opsir2 PETA lainnja berusaha mengumpulkan kembali semua opsir2 PETA dari seluruh keresidenan Banjumas untuk merebut kekuasaan dari tangan Djepang. Sudirman berhasil melakukan perebutan kekuasaan ini tanpa adanja pertumpahan darah. Kemudian terbentuklah satu resimen Tentara Keamanan Rakjat (TKR), dimana Sudirman sendiri mendjadi pemimpinnja; Sudirman mendjadi Komandan Resimen I/Divisi I. Persendjataan resimennja sangat lengkap karena Sudirman berhasil merebut gudang sendjata Djepang. Oleh Letnan Djenderal R. Urip Sumohardjo, Kepala Staf Markas Besar Umum TKR, Sudirman kemudian diangkat mendjadi Komandan Divisi V(daerah Banjumas). Tak lama sesudah kenaikan djabatan ini Kolonel Sudirman mendapat tugas jang sangat berat dan hebat, jaitu bertempur melawan tentara pendudukan Inggris/NICA di Banjubiru. Di Ambarawa terdapat suatu benteng dimana orang Serikat jang ditawan Djepang ditempatkan. Tentara Inggris / NICA bergerak ke Ambarawa dengan maksud untuk mengambil tawanan2 tsb. Padahal sebenarnja ketika pasukan Inggris ini akan mendarat, sudah diadakan perdjandjian dimana ditetapkan bahwa pasukan Inggris hanja akan menduduki kota2 Djakarta, Semarang dan Surabaja. Tetapi sekarang ternjata bahwa Inggris telah melang;ar perdjandjian tsb. dan menduduki Ambarawa. Mereka menduduki Ambarawa dengan maksud bahwa dari Ambarawa Inggris/NICA akan dapat menembus dan menguasai Djawa. Maksud Inggris/NICA ini harus ditjegah, dan karena itu mereka harus diusir dari Ambarawa. Sudirman denaan tentaranja jang terdiri dari TKR, badan2 perdjuangan Jainnja maupun Rakjat hiasa jang turut bertempur, ber-siap2 untuk mengadakan serangan besar2an ke Ambarawa dan merebut bentengnja. Pada suatu malam jang telah ditentukan Sudirman dengan para komandan Sektor dari TKR mengadakan pertemuan untuk membitjarakan rentjana ini. Pertemuan diadakan disuatu rumah dalam kampung, dengan tidak dipasangi lampu karena takut kelihatan oleh Inggris jang tempatnja memang tidak begitu djauh dari rumah itu. Beberapa ratus meter dari rumah itu sudah kelihatan meriam2 Inggris. Dalam pertemuan itu Sudirman menjatakan bahwa tindakannja untuk menjerang Ambarawa bukanlah suatu pelanggaran, sebab berdasarkan perdjandjian jang telah diadakan, Inggris hanja akan menduduki Djakarta, Semarang dan Surabaja. Djika Inggris menduduki Ambarawa, berarti Inggris jang melanggar perdjandjian dan bangsa Indonesia harus bertindak untuk mempertahankan kedaulatannja. Pada pertemuan itupun ditetapkan bahwa Ambarawa akan diserang pada keesokan harinja, djam 04.30. Segala sesuatu dipersiapkan, semua djam ditjotjokkan agar serangan dapat didjalankan dengan serentak.
Pagi2 buta pasukan kita mulai bergerak madju. Mereka berusaha mendekati musuh sampai se-dekat2nja sebab pasukan kita tidak mempunjai mer’iam penembak djauh. Tepat pukul 04.30 komando penjerangan diberikan, mitraljur mulai memuntahkan pelurunja. Karaben2 belum mulai ditembakkan karena sasaran masih terlalu djauh. Dibawah lindungan peluru mitraljur ini pradjurit2 pemegang karaben madju terus. Mereka madju sampai pada djarak kira-kira 200 meter dari musuh. Mulailah pertempuran jang sengit dan penuh kepahlawanan itu. Inggris membalas serangan-serangan ini dengan meriam2 sendjata-sendjata otomatis namun, meskipun demikian, pradjurit kita jang sendjatanja djauh lebih sederhana daripada lawannja sedikitpun tidak merasa gentar. Mereka madju terus mengepung Ambarawa. Djam 06.00 pagi itu djuga djalan jang menghubungkan Ambarawa dengan Semarang telah kita kuasai. Sudirman jang turut serta dalam pertempuran itu dan bertindak sebagai koordinator komando, memerintahkan agar djalan itu dipertahankan. Barikade dipasang, setiap konvoi jang mentjoba meloloskan diri diserang, pengepungan Ambarawa telah sempurna. Setelah pertempuran berlangsung 4 hari berturut-turut. Inggris, dengan meninggalkan majat2 serdadunja mengundurkan diri ke Semarang. Dalam pertempuran ini njata sekali keunggulan pak Dirman, namanja, jang dulu sering dipanggil dengan nama edjekan ”kadjine” (si hadji), mendjadi harum dan terkenal sebagai pedjuang dan panglima perang oleh semua orang. Tidaklah mengherankan bahwa ketika diadakan Konperensi TKR jang pertama (bulan Nopember 1945), dimana diadakan pemilihan Panglima Besar, maka pak Dirmanlah jang terpilih dan pangkatnja naik dari Kolonel mendjadi Djenderal. Peresmian pengangkatan dilakukan oleh Presiden Sukarno disertai dengan parade dan upatjara besar di Jogja, pusat pemerintahan Repnblik Indonesia jang sementara itu telah dipindahkan dari Djakarta. Djabatan Kepala Staf Markas Besar Umum tetap dipegang oleh Letnan Djendral R. Urip Sumohardjo.
IV. BAPAK TNI DAN GERILJA.
Pada waktu pelantikannja mendjadi Panglima Besar, Djenderal Sudirman dihadapan Presiden Republik Indonesia telah mengutjapkan sumpah jang bunjinja sbb :
1). sanggup mempertahankan Kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia jang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah jang penghabisan.
2). sanggup taat dan tunduk pada pemerintah negara Republik Indonesia jang mendjalankan kewadjiban menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannja.
Demikian sumpah ini bukan hanja sumpah dibibir sadja. Dalam. hatipun pak Dirman mengutjapkan sumpah ini dan tetap setia pada sumpah ini sampai pada achir hidupnja.
Pak Dirman, meskipun telah berpangkat Djenderal dan berkedudukan tinggi, hidup dan tingkah-lakunja tetap sederhana. Beliau selalu ramah terhadap siapapun djuga. Sikapnja selalu tenang, sabar tetapi tegas dan penuh wibawa. Karena itu, selain dihormati, pak Dirmanpun sangat disajangi dan ditjintai oleh anakbuahnja. Pak Dirman dihormati bukan karena pendidikannja atau pangkatnja. Beliau dihormati karena kepribadian dan wibawa jang dimiliki oleh beliau. Beliau mendjadi Djenderal bukan karena pendidikannja, melainkan karena beliau adalah pradjurit jang berani, tjakap dan berdisiplin. Beliau adalah seorang Djenderal Revolusi, tjiptaan Revolusi. Pak Dirman tidak pernah sempat mempeladjari dari buku2 bagaimana tjaranja menggembleng suatu Angkatan Perang dengan bermodalkan unsur-unsur jang beranekawarna. Namun, selaku Panglima Besar tjiptaan Revolusi, beliau mengerti kondisi2 jang njata. Dengan mempersatukan segenap kesatuan bersendjata jang ada, jang djuga meliputi laskar-laskar dan barisan-barisan, terbentuklah Tentara Nasional Indonesia atau TNI pada tahun 1947. Sedjak itu Pak Dirman mendjiwai perkembangan TNI sehingga benar-benar merupakan Tentara Nasional. Tentara Rakjat dan Tentara Revolusi. Karena itulah Pak Dirman tetap dikenang sebagai Bapak TNI. Sajang sekali bahwa djiwa dan iman Pak Dirman jang begitu kokoh itu tidak diimbangi dengan badan jang sehat dan kuat. Sudah sedjak lama Pak Dirman menderita penjakit paru-paru. Suatu ketika beliau harus dioperasi dimana salah satu paru-parunja diistirahatkan. Sedjak itu Pak Dirman hidup dengan satu paru-paru sadja jang masih sehat. Sesudah dioperasi, beliau sangat lemah badannja dan selama beberapa bulan tak dapat meninggalkan ternpat tidurnja, karena itu untuk sementara beliau tidak memegang pimpinan dalam tentara. Selama ini beliau selalu mendapat rawatan jang sangat baik, segala sesuatu tjukup, djuga obat-obatan (jang banjak diselundupkan menembus blokade musuh), meskipun keadaan waktu itu sangat genting.
Sementara itu hubungan RI dengan Belanda sudah bertambah tegang. Pak Dirman telah diminta oleh anak buahnja untuk menjingkir keluar Jogja. Untuk beliau telah disediakan tempat jang baik dan lengkap dengan segala keperluan Pak Dirman. Tetapi Pak Dirman menolak. Djika beliau menjingkir sebelum Belanda menjerang, maka hal ini dianggapnja sebagai ”melarikan diri”, suatu tindakan seorang pengetjut. Pak Dirman bukanlah seorang pengetjut. Beliau berkata bahwa beliau hanja akan menjingkir apabila Belanda sudah mendjatuhkan bomnja jang pertama di Jogja.
Tanggal 18 Desember 1948 Pak Dirman mengumumkan bahwa pimpinan Angkatan Perang RI telah dipegangnja kembali. Esoknja, tanggal 19 Desember 1948, Belanda mulai menjerang, mulailah aksi militer Belanda jang kedua, Jogja diserang dan dihudjani dengan bom2. Pak Dirman, jang sedjak tiga bulan tak dapat bangun dari tempat tidurnja, pada waktu itu se-akan2 mendapat kekuatan baru, beliau dapat bangun dan berdiri meninggalkan tempat tidurnja. Segera beliau menghadap Presiden untuk mengadakan pembitjaraan. Selesai mengadakan pembitjaraan beliaupun segera pulang kerumah dimana beliau membakar dokumen2 jang penting supaja tidak djatuh ketangan musuh. Sesudah itu, dengan diiringi dokter pribadinja dan beberapa orang pengawalnja, berangkatlah Pak Dirman keluar kota untuk meneruskan perdjuangan dan bergerilja dengan para pedjuang lainnja. Mulailah perdjuangan gerilja Pak Dirman jang akan berlangsung kira2 tudjuh bulan itu. Selama bergerilja Pak Dirman dengan pasukannja tidak tinggal pada suatu tempat sadja, melainkan terus ber-pindah2, tidak hanja melalui desa2, melainkan djuga naik-turun gunung, masuk-keluar hutan dan semak belukar. Perdjalanan ini ditempuh Pak Dirman dengan berbagai tjara, naik dokar, djalan kaki. Akan tetapi karena perdjalanan pada umumnja sangat berat dan badan Pak Dirman sangat lemah, maka beliau biasanja naik tandu jang diangkat setjara bergiliran oleh anakbuahnja jang sangat setia itu. Badan menderita penjakit, makan-tidur tidak teratur. Selama bergerilja ini Pak Dirman jang sedang sakit ini sering tidak makan nasi. Ber-sama2 anakbuahnja, beliau hanja makan apa sadja jang ada. Akan tetapi jang mengherankan ialah bahwa dalain keadaan jang begitu berat, ditambah djuga dengan obat2an jang sangat kurang, Pak Dirman tetap dapat mempertahankan hidupnja. Njatalah disini bahwa semangat berdjuangnja jang ber-api2 itulah jang telah berhasil mempertahankan hidupnja. Keistimewaan lain ialah bahwa dalam keadaan bagaimanapun djuga, Pak Dirman tak pernah meninggalkan sembahjangnja. Beliau tetap melakukan sembahjang sehari lima kali. Sementara itu Belandapun tidak tinggal diam. Pak Dirman terus di-kedjar2 dan di-intai2. Mata2 disebar di-mana2. Tidak djarang terdjadi bahwa sesuatu tempat tiba2 diserang Belanda sedangkan kira2 setengah djam sebelumnja Pak Dirman masih ada disitu. Pernah djuga terdjadi bahwa Pak Dirman dengan pasukannja pada suatu malam jang dingin terkepung oleh Belanda dalam hutan. Achirnja mereka lolos dari lobang djarum berkat hudjan lebat jang turun pada malam itu.
Selama bergerilja Pak Dirman tetap mengeluarkan perintah2 harian jang berisi djuga amanat2 jang penting baik bagi tentara maupun Rakjat Indonesia pada umumnja. Beliau terus-menerus memberikan pedoman dan pegangan kepada segenap anakbuah jang selalu beliau mulai dengan utjapan: “Anak2ku”….. Bapak TNI kini bertindak selaku Bapak Gerilja. Segala pertentangan dan perselisihan harus diberantas dan semua golongan, meskipun ideologinja ber-beda2, harus bersatu. Berkat pimpinan Pak Dirman perang gerilja jang dilantjarkan oleh TNT ber-sama2 Rakjat berhasil mendesak Belanda sehingga inisiatif beralih ketangan kita. Merasa dirinja mungkin terdesak, maka untuk sekian kalinja Belanda mengadjak berunding. Tertjapailah persetudjuan Rum-Van Royen pada tanggal 7 Mei 1949 dimana antara lain dinjatakan bahwa pemerintah Indonesia bersedia mengadakan gentjatan sendjata dan bersedia menghadiri Konperensi Medja Bundar. Adanja perundingan ini sebenarnja kurang memuaskan hati Pak Dirman. Beliau, jang terhadap anak buahnja senantiasa memperlihatkan sikap sebagai seorang ajah terhadap anaknja, selalu dapat menjelami perasaan anakbuahnja. Semangat peradjurit serta TNI seluruhnja ber-kobar2, demikian djuga kekuatannja terus meningkat, kedudukannjapun baik, mereka telah menempati tempat2 jang strategis. Untuk apa berunding? Untuk apa mengadakan gentjatan sendjata? Seandainja pertempuran diteruskan beberapa saat lagi pasti Belanda akan dapat dikalahkan. Namun Pak Dirman, meskipun beliau seorang Panglima Besar, sadar bahwa tugasnja jang utama tidaklah berbeda dengan pradjurit2 lainnja, jaitu mambela kedaulatan Bangsa dan Negara serta patuh kepada Pemimpin serta Pemerintah jang sjah.
Isi perdjandjian Rum -Van Royen dilaksanakan, Bung Karno dan Bung Hatta jang selama ini ditawan di Bangka dikembalikan ke Jogja. Pak Dirman merasa berat untuk kembali ke ibukota. Tetapi atas andjuran kawan2 dekatnja, achirnja Pak Dirman dengan pengawalnja pada tanggal 10 Djuli 1949 kembali ke Jogja, sesudah ber-bulan2 lamanja naik-turun gunung, keluar masuk hutan. Dalam perdjalanan kembali ke Jogja ini rombongan Pak Dirman di-mana2 mendapat sambutan hangat dari Rakjat. Suatu bukti betapa kasihnja orang pada pemimpin gerilja kita ini. Ketika sampai diperbatasan Jogja, rombongan terhenti karena tiba2 Pak Dirman mengatakan bahwa beliau tidak bersedia kembali ke Jogja. Beliau ingin tetap berada diantara anak-buahnja, para geriljawan. Tetapi sekali lagi beliau diandjurkan agar bersedia kembali keibukota, perdjandjian telah ditanda tangani. Achirnja tiba djuga Pak Dirman di Jogja, dimana beliau disambut dengan suatu upatjara besar di-alun2. Pak Dirman jang ketika itu badannja telah mendjadi sangat kurus menimbulkan rasa haru pada para penjambutnja. Para penjambut. veteran2 Perang Kemerdekaan jang telah membadja dalam gerilja, tak malu2 mentjutjurkan air mata.
V. PEMIMPIN DAN PAHLAWAN.
Kesehatan Pak Dirman selama gerilja pada umumnja kurang memuaskan, bahkan menurun. Selama gerilja Pak Dirman telah beberapa kali djatuh pingsan, sakitnja sering menghebat. Ketika sampai di Jogja beliau harus segera istirahat. Seperti telah disebutkan dimuka, selama bergerilja Pak Dirman hanja hidup dengan sebelah paru2 jang sehat. Sesampainja di Jogja beliau terus diperiksa dan ternjata paru2 jang satunjapun mulai terserang. Pak Dirman harus masuk rumah sakit. Segala perundingan, pertemuan dimana kehadiran Pak Dirman diperlukan, diadakan dirumah sakit. Setiap tiga djam beliau harus disuntik.
Pada tanggal 1 Agustus 1949, Pak Dirman menulis surat kepada Presiden dan mengadjukan permohonan untuk meletakkan djabatan sebagai Panglima Besar dan mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Akan tetapi setelah dipertimbangkan akan segala konsekwensinja, dimana Presiden sendiri djuga akan meletakkan djabatan, maka untuk mendjaga keutuhan pimpinan perdjuangan dan kepentingan negara, maksud ini diurungkannja. Terbukti bahwa Pak Dirman bukanlah sekedar Panglima Besar biasa dari pada TNI selaku alat negara, melainkan djuga dianggap sebagai pemimpin Angkatan Perang selaku salah satu kekuatan sosial Revolusi.
Sesudah pemulihan Kedaulatan, ibukota RI pindah lagi ke Djakarta, demikian djuga para pemimpin, ketjuali Pak Dirman karena kesehatannja belum mengizinkan. Bahkan Pak Dirman kemudian harus beristirahat ke Magelang dimana beliau achirnja wafat pada tanggal 29 Djanuari 1950, djam 18.30. Beliau dimakamkan di Makam Pahlawan Semaki, Jogjakarta. Beliau mendapat pangkat Djenderal Anumerta. (Sebagai akibat Rasionalisasi, pangkat beliau tadinja turun satu tingkat). Sedjak itu, tanpa diumumkan, Pak Dirman oleh seluruh rakjat telah diangkat sebagai Pahlawan. Seluruh Indonesia berkabung. Be-ribu2 orang, dari Rakjat djelata sampai kepada pembesar2 sipil maupun militer, bahkan djuga pembesar2 asing, turut serta memberikan penghormatan jang terachir kepada Pak Dirman, seorang pedjuang jang dikagumi, seorang pemimpin jang disegani dan seorang pahlawan jang ditjintai. Pak Dirman, seorang besar jang selalu mengutamakan kepentingan Negara dan Bangsa diatas kepentingannja sendiri telah tiada. Pak Dirman, Bapak TNI, Bapak ABRI, telah gugur pada posnja, tetapi djiwanja tetap hidup di-tengah2 kita, menghajati perdjuangan kita.
Sumber Jang Dipergunakan :
Kadarjono S. :
Swargi Djendral Sudirman, Surabaja, 1961.
Kem. Penerangan :
Djendral Sudirman Pahlawan Sedjati, Jogjakarta, 1950.
Solichin Salam :
Djendral sudirman Pahlawan Kemerdekaan. Djakarta, 1962
Simatupang, Djen. Maj. :
Laporan Dari Banaran, Djakarta, 1960.
Wawantjara dengan Drs. Bambang Sumadio, bekas anggauta Pasukan Pengawal Panglima Besar Sudirman.
10ne @ Surabaya, 4 Agustus 2007

Mohammad Hatta – Memoir
Judul : Dipanegara
Title : Indonesia The Posible Dreams
Judul asli : The Europe Crusade


